Senin, 05 Juli 2010

listrik

MACAM-MACAM ARUS LISTRIK
Pada dasarnya kita mengetahui dua macam arus listrik yang dihasilkan oleh sumber listrik,yaitu:
1. Arus Bolak-balik atau dalam bahasa bakunya disebut Arus AC atau Alternating Current.
2. Arus Searah atau dalam bahasa bakunya disebut Direct Current atau Arus DC.

LISTRIK ARUS BOLAK-BALIK
Pada umumnya listrik arus bolak-balik ini banyak dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari misalnya sebagai penerangan rumah dan keperluan rumah tangga lainnya seperti menjalankan Kipas Angin,Strika dan lain-lain.
Listrik arus bolak-balik ini dihasilkan oleh sumber pembangkit tenaga listrik yang dinamakan Generator Arus Bolak Balik yang terdapat pada Pusat-pusat Pembangkit Tenaga Listrik Bentuk dari Generator tersebut adalah seperti pada gambar di bawah ini:
Pada umumnya tegangan listrik yang dipergunakan untuk keperluan umum sudah distandarisasi secara nasional yaitu 110 V dan 220 V/AC dengan frekuensi sebesar 50 Hz.
Perlu diperhatikan bahwa tegangan listrik baik yang 110 V maupun 220 V selain berguna bagi kehidupan manusia, juga sangat berbahaya apabila memperlakukannya kurang hati-hati, hindari jangan sampai aliran listrik tersebut tersentuh oleh tangan apalagi oleh anak-anak.


220V


Untuk mencegah dan menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, sebaiknya kabel-kabel penghantar listrik atau letak stop-kontak tidak mudah dijangkau oleh anak-anak.
Untuk mengetahui ada atau tidaknya aliran listrik pada ujung kabel atau stop-kontak dapat dipergunakan suatu alat pengetes yang disebut Teat-Pen atau kalau ada menggunakan alat ukur yang disebut AVO Meter.
Alat ini sangat penting dan dianjurkan agar setiap rumah memiliki alat tersebut, harganya relatif murah dan banyak dijual di pasaran.
Simbol dari arus bolak-balik ini adalah seperti pada gambar di bawah ini:

LISTRIK ARUS SEARAH (DC)
Kalau kita perhatikan lampu penerangan yang terdapat pada kendaraan bermotor, sumber listriknya tidak lain berasal dari Batery atau Akumulator (Akku/Accu).
Akumulator adalah termasuk sumber listrik yang dapat menghasilkan Tegangan Listrik Arus Searah (DC). Prinsip kerja dari Akumulator adalah berdasarkan proses kimia.
Bentuk fisik dari Akumulator adalah seperti pada gambar di bawah ini:
Akumulator termasuk dalam jenis Batery Basah,selain daripada itu dalam bidang listrik dan elektronika selain batery basah kita mengenal pula istilah Batery Kering yang bentuknya seperti pada gambar di bawah ini:
Dengan perkembangan teknologi elektronika saat ini, listrik arus searah (DC) dapat dihasilkan dengan cara merubah Arus Bolak-Balik (AC) menjadi Ars Searah (DC) dengan menggunakan suatu alat yang disebut Power Supply atau Adaptor.
Salah satu contoh dari Rangkaian Power Supply ini adalah seperti pada gambar di bawah ini:
Sebagai dasar dari rangkaian Power Supply adalah sebuah komponen Diode yang berfungsi sebagai penyearah, artinya adalah dapat merubah dan menyearahkan Arus Bolak-Balik (AC) menjadi Arus Searah (DC).
Simbol dari arus searah adalah seperti pada gambar di bawah ini:

HUBUNGAN SERI SUMBER ARUS
Kalau kita perhatikan pada sebuah Radio Transistor yang menggunakan 4 buah batery 1,5 Volt, pada umumnya pemasangan baterynya dihubungkan seri antara yang satu dengan yang lainnya seperti terlihat pada gambar di bawah ini:
Dihubungkan secara seri, maksudnya adalah agar tegangan yang diperoleh sesuai dengan kebutuhan tegangan yang dipergunakan oleh Radio tersebut.
Berdasarkan gambar di atas, maka pada hubungan seri akan berlaku rumus:

Etotal = E1 + E2 + E3 + E4

ETotal = jumlah tegangan yang dihasilkan
E1, E2, E3, E4 = tegangan Batery yang dihubungkan seri.
Sedangkan besarnya arus adalah: lTotal = l1 = l2 = l3 = l4
Dari rumus di atas ternyata pada hubungan seri, besarnya tegangan totalnya adalah jumlah dari tegangan semua batery yang dihubungkan sedangkan arus totalnya (lTotal sama dengan arus yang terdapat pada tiap batery).


HUBUNGAN PARALEL DARI SUMBER LISTRIK
Selain dihubungkan seri, untuk keperluan tertentu batery dapat pula dihubungkan secara paralel/berderet. Maksud daripada pula dihubungkan paralel adalah agar arus yang dihasilkan akan menjadi lebih besar.
Hubungan paralel dari beberapa buah batery dapat dilihat pada gambar di bawah ini:
Berdasarkan pada gambar di atas, maka pada hubungan paralel akan berlaku rumus:
lTotal = l1 + l2 + l3
lTotal = Jumlah arus yang dihasikan
l1, l2, l3 = Besar arus tiap batery
Sedangkan besarnya tegangan total adalah:
ETotal = E1 = E2 =E3
Dari uraian di atas dapat disimpulkan, bahwa pada sambungan paralel, tegangan totalnya adalah sama besarnya dengan tegangan masing-masing batery.

HUKUM OHM
Berdasarkan percobaan, bila antara 2 buah titik yang dihubungkan dengan sebuah kawat penghantar terdapat beda tegangan (E), maka akan mengalir arus listrik (l) yang mengalir melalui kawat penghantar tersebut.
Banyaknya arus yang mengalir pada kawat penghantar tersebut tergantung dari beda tegangan antara ke 2 titik tersebut. Makin besar beda tegangan antara titik A dan titik B, maka makin besar pula arus yang mengalir pada kawat penghantar tersebut.
Besarnya arus yang mengalir pada kawat penghantar, selain tergantung dari besarnya beda tegangan juga dipengaruhi oleh:
a. Besar kecilnya diameter atau garis tengah dari kawat penghantar
b. Jenis dari kawat penghantar
Besarnya kecilnya arus listrik diukur dengan satuan Ampere atau disingkat A dan notasinya dituliskan dengan huruf l.
Nama Ampere diambil sebagai tanda penghormatan terhadap seorang Sarjana Perancis yang bernama Andre Marie Ampere (1755 – 1836).
Pada percobaan rangkaian elektronika pada umumnya kita akan berhubungan dengan penggunaan arus listrik yang ukurannya relatif kecil, sehingga untuk menuliskan nilai arus yang kecil tersebut diperlukan satuan yang lebih kecil dari Ampere (A).
Satuan yang lebih kecil dari Ampere adalah:
1 milli Ampere = 1 mA = 0,001 A = 10-3 A
1 micro Ampere = 1 μA = 0,000.001 = 10-6 A
Dari hasil percobaan di atas ternyata kuat arus (l) berbanding langsung dengan beda tegangan (E), sehingga hasil bagi dari beda tegangan (e) dan arus (l) merupakan suatu bilangan tetap. Bilangan ini merupakan suatu tahanan dari kawat penghantar yang dilalui arus tadi.
Besar kecilnya tahanan dapat diukur dengan satuan Ohm dan tahanan sendiri dituliskan dengan notasi huruf R.

Prinsip inilah yang dinamakan dengan Hukum Ohm.
Berdasarkan Hukum Ohm, hubungan antara tegangan listrik, arus listrik dan tahanan listrik dapat dibuat persamaan sebagai berikut:
R = E
l
Timbulnya perbedaan tegangan yang terjadi pada percobaan di atas disebabkan karena adanya tekanan dan perlawanan dari adanya perpindahan elektron-elektron yang berpindah dari kutub negatif ke kutub positif yang mengalir pada kawat penghantar tersebut.
Besar kecilnya Tegangan listrik dapat diukur dengan satuan volt atau disingkat V dan notasinya dituliskan dengan huruf E.
Nama satuan Volt diambil sebagai tanda penghormatan yang diberikan terhadap seorang Sarjana Italia yang bernama Alesandro Guiseppe Antonio Volta (1766-1857) yaitu sebagai penemu elemen Volta.
Perlu diketahui bahwa pada umumnya Pembangkit Tenaga Listrik masa kini dapat menghasilkan tegangan listrik dalam jumlah yang sangat besar, yang ukurannya kadang-kadang sampai mencapai berjuta-juta Volt dan ini tentunya untuk menuliskan angka sebesar itu harus dituliskan dengan satuan listrik yang lebih besar dari Volt.
Satuan yang lebih besar dari Volt adalah :
1 Kilo Volt = 1 KV = 1.000 V = 103 V
1 Mega Volt = 1 MV = 1.000.000 V = 106 V
Dan sebaliknya pada percobaan – percobaan elektronika kadangkala kita akan berhubungan dengan tegangan listrik yang nilainya lebih kecil dari satu Volt.
Satuan yang lebih kecil dari Volt adalah :
1 milli Volt = 1 mV = 0,001 V
1 micro Volt = 1 μV = 0,000,001 V
1 micro – micro Volt = 1 μμV = 0,000,000,000,001 V
Untuk mengukur ketiga besaran listrik diatas yaitu tegangan listrik, arus listrik dan tahanan listrik dapat dipergunakan sebuah alat ukur listrik yang dinamakan AVO Meter (Ampere Volt Ohm Meter)

DAYA LISTRIK
Pada pembahasan yang telah lalu kita telah mengenal 3 macam satuan listrik yaitu tegangan listrik, arus listrik, arus listrik dan tahanan listrik. Ketiga besaran tersebut antara satu dengan yang lainnya saling berhubungan.
Sekarang kalau kita perhatikan, sebuah lampu penerangan dengan menggunakan lampu pijar dan dihubungkan dengan sumber listrik, lampu tersebut akan menyala. Dengan adanya lampu tersebut menyala tentunya akan menimbulkan energi panas. Hal ini menunjukan adanya suatu usaha listrik yang mengalir dari kutub positif melalui lampu dan kembali ke kutub negatif dari sumber listrik. Usaha listrik tersebut dinamakan Daya Listrik.
Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa Daya Listrik adalah suatu usaha untuk mengubah aliran listrik menjadi panas. Prinsip seperti ini dapat dimanfaatkan untuk membuat kompor Listrik,Setrika Listrik,Solder dan lain – lain.
Daya listrik dinyatakan dengan satuan Watt (W) dan notasinya dituliskan dengan huruf P.
Adapun rumus Daya Listrik adalah :
P = E x l
Dalam kehidupan sehari – hari, kita dapat melihat hampir dari setiap peralatan yang menggunakan listrik akan mencantumkan spesifikasi (besarnya) daya yang dipergunakan oleh peralatan tersebut. Hal ini maksudnya adalah agar apabila kita akan menggunakan alat tersebut harus disesuaikan dengan persediaan daya listrik yang ada di rumah kita.
Besar kecilnya daya listrik adalah sangat tergantung dari besarnya arus dan tegangan yang mengalir dalam rangkaian ters





KOMPONEN – KOMPONEN ELEKTRONIKA

KOMPONEN ELEKTRONIKA
Bagi para penggemar elektronika, baik yang sudah berpengalaman maupun yang baru dalam tingkat pemula, biasanya dalam melakukan percobaan elektronika akan berhadapan dengan gambar atau skema rangkaian elektronika yang terdiri dari berbagai macam komponen pasif maupun komponen aktif. Komponen – komponen tersebut dituangkan dalam gambar berupa kode – kode atau simbol – simbol yang kadang – kadang belum kita ketahui sebelumnya.
Bagi mereka yang sudah berpengalaman, hal tersebut tidak menjadi masalah, tetapi bagi mereka yang baru dalam tingkat pemula tentunya akan menjadi lain.
Alternatif yang perlu dihadapi oleh para pemula adalah mengenal komponen-komponen dengan berbagai macam simbolnya yang sering dipergunakan dalam percobaan rangkaian elektronika.
Dalam bidang elektronika kita mengenal 2 macam komponen yaitu :
- Komponen Aktif
- Komponen Pasif

KOMPONEN PASIF
Yang dimaksud dengan komponen pasif adalah komponen-komponen elektronika yang tidak dapat menhasikan tenaga apabila dialiri aliran listrik.
Beberapa contoh komponen yang termasuk dalam komponen pasif adalah : Tahanan (Resistor), Kapasitor (Kodensator), Trafo (Transformator), Coil dan lain sebagainya.

TAHANAN LISTRIK (RESISTOR)
Tahanan listrik dalam bidang elektronika disebut juga Resistor atau Resistance. Dalam bahasa Belanda dikenal dengan nama Werstand.
Tahan listrik adalah komponen yang paling banyak dipergunakan dalam rangkaian elektronika, hal ini disebabkan karena sifat dan fungsi dari tahan itu sendiri.
Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, yang dimaksud dengan tahanan listrik adalah suatu komponen yang dapat menghambat arus listrik pada suatu penghantar.
Besar kecilnya nilai tahanan dapat dinyatakan dengan satuan Ohm atau ditulis dengan huruf Ω (omega) dan notasinya ditulis dengan huruf R.
Fungsi dari pemasangan tahanan (resistor) dalam satuan rangkaian adalah :
1. Sebagai pembatas atau pengatur tegangan.
2. Sebagai pengatur tegangan.
3. Sebagai pembagi tegangan.
Dengan cara memasang tahanan (resistor sedemikian ryupa kita dapat mengatur besarnya arus dan tegangan sesuai dengan kebutuhan.
MACAM-MACAM TAHANAN
Dalam bidang elektronika kita mengenal 5 macam tahanan yaitu :
1. Tahana Tetap.
2. Tahanan Tidak Tetap (Variable)
3. Takanan Peka Cahaya
4. Tahanan Peka Terhadap Tegangan
5. Tahanan Peka temperatur

TAHANAN TETAP
Tahan tetap adalah suatu tahanan yang nilai tahanannya sudah ditetapkan oleh pabrik pembuatnya.
Simbol dari tahanan tetap adalah


Pada umumnya dalam suatu rangkaian, tahanan tetap banyak dipergunakan dengan tujuan :
1. Pembagi tegangan
2. Memperkecil arus
3. Memperbesar dan memperkecil tegangan

TAHANAN TIDAK TETAP (VARIABLE)
Tahan tidak tetap (variable) adalah suatu tahanan yang nilai tahananya dapat diatur disesuaikan dengan kebutuhan. Dalam prakteknya kita mengenal bermacam-macam jenis tahanan tidak tetap, sebagai contoh misalnya : Potensiometer, Trimmer, tahanan Geser dan lain-lain.

Dalam suatu rangkaian, tahanan tidak tetap pada umumnya dipergunakan sebagai berikut :
1. Sebagai pengatur volume (mengatur besar kecilnya arus).
2. Sebagai tone control pada sound system.
3. sebagai pengatur tinggi rendahnya nada (bass/treble).
4. Sebagai pembagi tegangan dan arus.

PORENSIOMETER
Dalam prakteknya potensimeter dapat dibedakan menjadi :
1. Potensiometer Linier.
2. Potensiometer Logaritmis.

Yang dimaksud dengan potensio linier adalah potensiometer yang perubahan nilai tahanannya sebanding dengan besarnya sudut putar.
Untuk jenis potensiometer linier ini pada umumnya diberi tanda huruf besar B.
Sedangkan yang disebut dengan potensiometer logaritmis adalah potensiometer yang perubahan nilai tahanannya berbanding kuadrat dengan perubahan sudut putarnya.
Untuk jenis potensiometer linier ini pada umumnya diberi tanda huruf kapital A.
Perlu kita ketahui dalam suatu rangkaian, biasanya potensiometer ditulis dengan tanda huruf VR yaitu singkatan dari Variable resistor.
Dipasaran kita dapat menjumpai jenis potensiometer balik yang menggunakan maupun yang tidak menggunakan saklar. Untuk jenis yang dilengklapi dengan saklar pada umumnya dipergunakan pada Pesawat Penerima Radio yang fungsinya selain sebagai pebgatur volume juga sekaligus sebahai saklar untuk menghidupkan/mematikan aliran listrik.
Dalam praktek pemakaian potensiometer dalam suatu rangkaian akan banyak memakan tempat, sehingga kita harus mengambil alternatif yaitu mengganti potensiometer tersebut dengan jenis potensiometer lainnya yang sisebut Trimpot.
Trimpot sendiri adalah singakatan dari Tripotensiometer. Pada trimpot ini untuk mengatur besar kecilnya nilai tahanan dapat diproleh dengan cara memutar lubang coakan dengan menggunakan obeng kecil.

TAHANAN YANG PEKA TERHADAP CAHAYA (LDR)
Suatu jenis tahanan yang peka terhadap cahaya yang dinamakan LDR atau Light Dependent Resistant.
Bentuk fisik dan simbol dari LDR adalah seperti gambar di bawah ini :
A K
A






K

Sifat dari tahanan LDR ini adalah nilai tahanannya akan berubah apabila kena sinar atau cahaya. Pada cahaya yang felap nilai tahannya akan besar dan sebaliknya apabila kena cahaya terang nilai tahanannya akan menjadi kecil.
Jadi besar kecilnya nilai tahanan dari LDR ini tergantung dari besarnya intensitas cahaya yang mengenai permukaannya.
Dengan adanya sifat seperti ini LDR sangat cocok dipergunakan sebagai sensor, misalnya lampu sensor pada Rangkaian Alarm atau Rangkaian lampu Taman.

TAHANAN YANG PEKA TEGANGAN
Selain tahanan yang peka cahaya (LDR) di kenal pula suatu komponen tahanan yang peka terhadap tegangan yaitu komponen VDR. VDR adalah singkatan dari Voltage Dependent Resistant, yaitu sejenis tahanan yang nilai tahananya akan berubah tergantung dari besarnya tegangan yang diberikan pada kedua ujung tersebut maka tahannannya akan makin kecil sehinnga arus yang mengalir pada VDR akan menjadi besar.
Dalam prakteknya komponen VDR banyak dipergunakan sebagai peredam atau penstabil suhu transistor.
Simbol dari VDR adalah seperti gambar di bawah ini :
VDR








TAHANAN YANG PEKA TEMPERATUR

Tahanan yang nilai tahanannya dapat berubah apabila kena pengaruh temperatur atau suhu, tahanan tersebut dalam bidang elektronika dinamakan komponen NTC dan PTC.
NTC adalah singkatan dari Negatif Temperature Coefficient. PTC adalah singkatan dari Positive Temperature Coefficient. Komponen NTC dan PTC dalam praktek disebut juga Thermistor. Bentuk dan simbol dari kedua komponen PTC dan NTC tersebut adalah seperti gambar di bawah in :









Sifat dan keistimewaan dari kedua komponen tersebut adalah nilai tahananya akan berubah sesuai dengan temperatur yang ada disekitar komponen tersebut, yaitu apabila suhu disekitar NTC rendah maka tahananya akan kecil dan sebaliknya apabila suhu disekitar NTC naik maka tahananya akan menjadi besar.
Kedua komponen banyak dipergunakan untuk membuat rangkaian pengatur temperatur pada industri-industri yang besar atau sebagai alarm atau tanda adanya kebakaran/temperatur tinggi.

KODO WARNA PADA TAHANAN (RESISTOR)

Pada umumnya tahanan/resistor yang dipergunakan dalam praktek elektronika bentuknya sangat kecil sehingga sulit untuk mencantumkan nilai tahanan.
Oleh karena itu untuk menuliskan nilai tahanan pada badan tahanan/resistor dipergunakan Kodo warna yang dicantumkan dalam bentuk gelang-gelang berwarna yang sesuai dengan besarnya nilai tahana tersebut.
Tahanan/resistor yang menggunakan tanda kode warna pada umumnya dibuat dengan nilai tahanan yang besarnya mulai dari 1 Ohm sampai dengan 20 Mega Ohm dengan kemampuan kerja mulai dari ¼ Watt sampai 3 Watt.
Kode warna yang dipergunakan adalah sebagai berikut :



gelang ke-4
gelang ke-3
gelang ke-2
gelang ke-1

Kode warna pada tahanan.










KODE WARNA

Warna Angka ke-1 Angka ke-2 Angka ke-3
Faktor
perkalian Angka ke-4
Toleransi
Hitam 0 0 1
Coklat 1 1 10
Merah 2 2 100
Oranye 3 3 1.000 2%
Kuning 4 4 10.000
Hijau 5 5 100.000
Biru 6 6 1.000.000
Violet/ungu 7 7 -
Abu-abu 8 8 -
Putih 9 9 -
Emas - - - 5%
Perak - - - 10%
Tidak berwarna - - - 20%
Pada gambar diatas terlihat tanda 4 buah gelang berwarna yang melingkar pada badan tahanan/resistor. Tanda-tanda tersebut adalah menunjukan hal-hal sebagai berikut :
Gelang ke- 1 menunjukan Angka-1
Gelang ke-2 menunjukan Angka-2
Gelang ke-3 menunjukan banyaknya angka nol di belakang angka ke-2
Gelang ke-4 menunjukan besarnya toleransi dan tahanan.

Sebagai contoh misalnya :
Pada badan sebuah tahanan/resistor tercantum kode warna sebagai berikur :
HIJAU – COKLAT – MERAH – EMAS

tanda ini adalah menunjukan bahwa nilai tahanan tersebut adalah :
HIJAU – COKLAT – MERAH – EMAS
5 1 00 5%

Untuk tahan yang bentuk fisiknya besar atau pada potensiometer pada umumnya nilai tahanannya dapat langsung dibaca, misalnya 1K, 5K, 100K, 1M.
Selain kode warna ada bentuk satu kode lainnya yabg juga sering kita pergunakan untuk mencantumkan besarnya nilai tahanan/resistor. Kode-kode tersebut terdiri dari Kombinasi Huruf dan angka yang dicantumkan pada badan tahanan.
Kombinasi tersebut terdiri dari 4 huruf/angka, 2 angka pertama dan kedua menunjulan angka jumlah, 1 huruf ke-3 menunjukan satuan yang dipergunakan dan 1 huruf ke-4 adalah menunjukan besarnya toleransi dari tahana tersebut.

Huruf-huruf yang dipergunakan sebagai satuan adalah :
Huruf R menyatakan Ohm
Huruf K menyatakan Kilo Ohm
Huruf M menyatakan Mega Ohm
Huruf-huruf yang dipergunakan sebagai toleransi adalah :
Huruf F menyatakan toleransi 2%
Huruf G menyatakan toleransi 3%
Huruf J menyatakan toleransi 5%
Huruf K menyatakan toleransi 10%
Huruf M menyatakan toleransi 20%
Sebagai contoh: pada badan sebuah resistor tercantum tanda sebagai berikut :
1ORF artinya adalah 10 Ohm dengan toleransi 2%
5K1J artinya adalah 5.1 Kilo Ohm, toleransi 5%
10MK artinya adalah 10 Mega Ohm, toleransi 10%

TAHANAN YANG DIHUBUNGKAN SERI
Pada rangkaian elektronika seringkali kita melihat adanya beberapa buah tahanan/resistor yang dihubungkan seri. Yang dimaksud dengan dihubungkan seri adalah beberapa buah tahanan yang dipasang dan dihubungkan secara berturut-turut seperti pada gambar di bawah ini :




Adapun tujuan tahanan dihubungkan seri adalah untuk mendapatkan nilai tahanan yang lebih besar.
Rangkaian seperti pada gambar diatas dapat dituliskan dalam rumus :
RT = R1 + R2 + R3
Di mana: RT = tahanan total
R1, R2, R3 = tahanan yang dihubungkan seri

Contoh :
2 buah resistor dihubungkan secara seri dan masing-masing tahanannya besarnya adalah 100 Kilo Ohm. Berapa besar tahanan totalnya.
Jawab : RT = R1 + R2
= 100 +100
= 200
Jadi tahanan totalnya adalah 200 Kilo Ohm.

TAHANAN YANG DIHUBUNGKAN PARALEL
Selain dihubungkan seri, dalam suatu rangkaian adakalanya kita melihat beberapa resistor yang dihubungkan secara paralel atau berderet seperti gambar dibawah :








Seperti sudah dijelaskan di atas tahanan yang dihubungkan seri tahanan totalnya akan bertambah besar, tetapi sebaliknya apabila beberapa buah resistor dihubungkan secara paralel, maka tahanan totalnya akan menjadi lebih kecil.
Rangkaian gambar diatas dapat dituliskan dalam bentuk rumus :
1 = 1 + 1 atau R1 x R2
RT R1 R2 R1 + R2
Contoh : 2 buah resistor yang masing-masing tahanannya 100 Kilo Ohm dihubungkan secara paralel. Berapa besar tahanan totalnya.
Jawab :
Berdasarkan rumus : RT = R1 x R2
R1 + R2
= 100 x 100
100 + 100
= 50
Jadi tahanan totalnya adalah = 50 Kilo Ohm

TAHANAN OPOSISI
Dalam prakteknya seringkali kita melihat beberapa buah rangkaian elektronika yang menggunakan catu daya negatif. Untuk memenuhi keperluan ini kita dapat membuat tegangan negatif dengan cara menghubungkan beberapa buah batery sedemikian rupa sehingga dapat menghasilkan tegangan positif dan tegangan negatif. Hubungan batery seperti ini dinamakan Hubungan Oposisi.
Hubungan oposisi adalah seperti gambar dibawah ini :



A 1,5 1,5 1,5 1,5 1,5 C 1,5 B




Seperti terlihat pada gambar diatas, yang dimaksud dengan hubungan oposisi adalah hubungan beberapa buah batery yang dihubungkan seri yang salah satu ujungnya dihubungkan dengan beberapa buah batery yang kutubnya dipasang terbalik.
Tujuan memasang hubungan oposisi ini adalah untuk mendapatkan beberapa macam tegangan misalnya :
1. Tegangan positif
2. Tegangan negatif
3. Hubungan ke tahanan (ground)


KONDENSATOR

KONDENSATOR

Seperti halnya resistor, Kondensator adalah termasuk salah satu komponen pasif yang banyak dipergunakan dalam rangkaian elektronika.
Kondensator dalam bidang elektronika dIsebut juga Kapasitor atau Kondenser.
Kapasitor berasal dari kata Capasitance atau Kapasitas yang artinya adalah kemampuan untuk menyimpan aliran listrik untuk sementara waktu
Simbol dari kondensator adalah seperti pada gambar dibawah ini :
.
+ -


MEMPUNYAI
POLARITAS


TIDAK
BERPOLARITAS

Besarnya kapasitas dari kondensator dinyatakan dengan satuan Farad (F) dan notasinya ditulis dengan huruf kapital C.
Nama Farad diambil sebagai tanda penghargaan kepada seorang pencipta Kondensator yang bernama Michael Faraday.
Dalam praktek biasanya satuan Farad (F) dianggap sangat terlalu besar, sehingga dalam pemakaian satuan Farad diperkecil menjadi :

mikro Farad disingkat μF
nano Farad disingkat nF
piko Farad disingkat pF

Perbandingan satuan-satuan tersebut adalah:
1 Farad (F) = 1.000.000 μF (μF = mfd)
1 mikro Farad (mF) = 1.000 nF
1 nano Farad (nF) = 1.000 pF

Struktur dari kondensator adalah terdiri dari 2 buah keping konduktor yang dilapisi oleh semacam penyekat yang disebut dielektrikum seperti terlihat pada gambar di bawah ini :

C = kapasitas kondensator dalam cm
e = dielektrikum
D = luas bidang plat pxt
d = jarak di antara plat


t


p
Dielektrikum
d
DIELEKTRIKUM

Besarnya kapasitas dari kondensator dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
C = 0.0885 x ε x D piko Farad (pF)
d
ε = konstanta dielektrikum
D = Luas plat dalam cm2
d = Jarak antara kedua plat dalam cm

Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa besar kecilnya kapasitas suatu kondensator sangat tergantung kepada konstanta dielektrikum atau bahan dielektrikum yang dipergunakannya juga luas bidang dari bahan yang dipergunakan.
Yang dimaksud dengan konstanta dielektrikum adalah suatu angka tetap yang dipergunakan untuk membandingkan suatu bahan dielektrikum sebuah kondensator dengan dielektrikum udara (є udara = 1).
Perlu diketahui bahwa nama-nama kondensator disesuaikan dengan bahan dielektrikum yang dipergunakan oleh kondensator tersebut, misalnya bila bahan dielektrikumnya dari Mika maka dinamakan Kondensator Mika dan kalau dari bahan kertas maka disebut Kondensator Kertas.

DAFTAR KONSTANTA DIELEKTRIKUM (є)

NAMA BAHAN KONSTANTA DIELEKTRIKUM (ε)
Akuades
Bakelit
Ebonit
Fiber
Kaca
Kertas biasa
Kertas minyak
Kertas parafin
Mika
Mikalek
Marmer
Porselin
Shellak
Udara 80
2,5
3,0
4,0 – 5,0
3,0 – 7,0
2,5
5,0
3,0
5,0 – 7,0
6,0 – 8,0
7,0 – 9,0
5,0
3,0 – 4,0
1,0


KODE KONDENSATOR
Cara penulisan nilai kapasitas dari sebuah kondensator bermacam-macam, ada yang dapat dibaca langsung pada badannya dan ada yang dituliskan dalam bentuk kode-kode warna dan kode-kode lainnya.
Untuk yang dapat dibaca langsung misalnya 1000 μF/16V hal ini tidak akan menjadi masalah, tetapi untuk membaca yang menggunakan kode warna tentunya kita harus memahami arti dari kode warna tersebut.
Penggunaan Kode Warna pada kondensator pada prinsipnya hampir sama dengan Kode Warna pada resistor hanya pada kondensator dicantumkan kode warna untuk menyatakan tegangan kerja maksimumnya (WV atau Working Voltage).
Untuk memahami kode warna kondensator dapat dilihat pada daftar dibawah ini :












KODE WARNA KONDENSATOR

WARNA ANGKA KE-1 ANGKA KE-2 ANGKA KE-3
FAKTOR
PERKALIAN ANGKA KE-4
TOLERANSI ANGKA KE-5
TEG KERJA
Hitam - 0 1 20% -
Coklat 1 1 101 100WV
Merah 2 2 102 250 WV
Oranye 3 3 103 -
Kuning 4 4 104 400 WV
Hijau 5 5 105 -
Biru 6 6 106 630 WV
Violet 7 7 - -
Abu-abu 8 8 - -
Putih 9 9 - 10% -


Cara pembacaannya: sebagai contoh misalnya pada sebuah kondensator jenis Polyester tercantum kode warna seperti pada gambar di bawah ini.






1 2 3 4 5


Warna ke-1 coklat
Warna ke-2 hijau
Warna ke-3 oranye
Warna ke-4 putih
Warna ke-5 merah

Kapasitas kondensator tersebut adalah :
Warna ke-1 - - - - - - - - - 1
Warna ke-2 - - - - - - - - - 5
Warna ke-3 - - - - - - - - - 103
Kapasitasnya adalah 15.000 pF atau 15 nF
Warna ke-4 - - - - - - - - - toleransi 10%
Warna ke-5 - - - - - - - - - Working Voltage (WV) 250 V
Jadi nilai kapasitas dari kondensator Polyester tersebut adalah 15 nF dengan toleransi 10% dan WV 250 V.
Pada beberapa jenis kondensator lainnya yang nilai kapasitornya dituliskan dalam bentuk kode lain misalnya : 0.1 – 0.002 – 102 – 203



000.1








0.1 artinya adalah 0.1 μF
0.001 artinya adalah 0.001 μF
102 artinya adalah 10 x 102 pF = 1000 pF
203 artinya adalah 20 x 103 pF = 20.000 pF = 20 nF

Perlu diketahui ada beberapa jenis kondensator yang dilengkapi dengan polaritas kutub positif dan kutub negatif. Perlu diperhatikan bahwa dalam pemasangan kondensator seperti ini jangan sampai terbalik pemasangan polaritasnya sebab hal ini akan berakibat rusaknya kondensator (meledak). Selain daripada itu perlu juga diketahui bahwa kondensator jenis ini mempunyai batas kerja maksimum atau Working Voltage (WV).
Tujuan penggunaan kondensator dalam suatu rangkaian elektronika adalah dengan maksud :
1. Sebagai kopling antara rangkaian yang satu dengan rangkaian lainnya (pada rangkaian Power Supply)
2. Sebagai filter dalam rangkaian Power Supply
3. Sebagai pembangkit frekuensi dalam rangkaian antena
4. Menghemat daya listrik pada Lampu Neon
5. Menghilangkan boincing (loncatan api) bila dipasang pada saklar

MACAM-MACAM KONDENSATOR

Dalam bidang elektronika kita mengenal 2 macam kondensator :
1. Kondensator Tetap
2. Kondensator Tidak Tetap (Variable)

Simbol dari kedua macam kondensator tersebut adalah seperti pada gambar di bawah ini:






KONDENSATOR TETAP







KONDENSATOR TIDAK TETAP (Variable)

KONDENSATOR TETAP

Yang dimaksud dengan kondensator tetap adalah kondensator yang nilai kapasitasnya sudah ditetapkan oleh pabrik pembuatnya.
Beberapa macam kondensator tetap diantaranya adalah:

Kondensator Kertas
Kondensator Mika
Kondensator Keramik
Kondensator Polyester
Kondensator Film
Kondensator Elektrolit









KONDENSATOR KERTAS

Kondensator Kertas pada umumnya dikenal pula dengan nama Kondensator Padder dan bentuknya seperti pada gambar dibawah ini:






Kondensator ini dinamakan kondensator kertas karena bahan dasar (plat) dibuat dari kertas atau dari pita stanol dan sebagai dielektrikumnya dibuat dari kertas parafin.
Kondensator jenis ini tidak memiliki polaritas sehingga pada pemasangannya tidak ada masalah.
Kondensator Kertas ini pada umumnya memiliki kapasitas yang besarnya berkisar antara 100 pF sampai 6800 pF.
Kondensator jenis ini banyak dipergunakan dalam rangkaian oscilator.
KONDENSATOR MIKA

Dinamakan Kondensator mika karena kondensator ini bahan dielektrikumnya dibuat dari bahan mika. Bahan mika mempunyai konstanta dielektrikum yang besar, sehingga merupakan bahan yang kuat terhadap tegangan listrik.
Bentuk fisik dari kondensator mika adalah seperti gambar dibawah ini:






Pada kondensator Mika dipergunakan dalam rangkaian-rangkaian yang berhubungan dengan frekuensi tinggi, misalnya pada pesawat Pemancar.
Kapasitas dari kondensator seperti ini besarnya sampai 0,1 μF

KONDENSATOR KERAMIK

Sesuai dengan namanya Kondensator Keramik adlah kondensator yang bahan dielektrikumnya terbuat dari bahan keramik.
Bentuk fisiknya ada yang berbentuk bulat, persegi panjang dan ada pula yang berbentuk bulat panjang seperti pada gambar di bawah ini:





Kondensator jenis ini tidak mempunyai polaritas sehingga dalam pemasangannya tidak ada masalah.
Kapasitas dari kondensator keramik pada umumnya dibuat mulai dari harga beberapa piko Farad (pF) sampai Kilo piko Farad (KpF). Nilai kapasitas dari kondensator ini penandaannya biasanya langsung dituliskan pada badannya. Tapi ada juga jenis lainnya yang menggunakan kode seperti pada gambar ini:




Pada gambar di atas tertulis angka 403, ini berarti kapasitas dari kondensator tersebut adalah:

40 x 103 = 40 x 1000 = 40.000 pF

Pada umumnya kondensator yang menggunakan kode seperti ini satuannya menggunakan saturn pF.

KONDENSATOR POLYESTER

Kondensator ini dinamakan Kondensator Polyester karena sebagai bahan dielektrikumnya menggunakan bahan polyester.
Seperti juga halnya kondensator keramik, kondensator polyester ini tidak memiliki polaritas sehingga pemasangannya tidak ada masalah. Kapasitas dari kondensator ini pada umumnya berkisar di bawah 1 mikro Farad (μF)
Bentuk fisik dari kondensator polyester adalah seperti pada gambar dibawah ini:










Cara membaca nilai kapasitas dari kondensator ini ada 2 macam yaitu ada yang langsung ditulis dibadannya dan ada yang dicantumkan dengan Kode Warna.

Cara pembacaannya adalah sebagai berikut:

Misalnya Kondensator polyester dengan kode warna sebagai berikut:

COKLAT – HIJAU – ORANYE – PUTIH - MERAH
1 - 5 - 103 - 10% - 250 V

Berdasarkan Daftar Kode Warna maka besarnya kapasitas kondensator tersebut adalah: 15.000 pF dengan toleransi 10% dan batas tegangan kerja WV 250 V.
Kondensator Polyester dalam prakteknya banyak dipergunakan para rangkaian frekuensi tinggi.

KONDENSATOR FILM

Kondensator jenis ini bahan dielektrikumnya terbuat dari bahan film dan bentuk fisiknya seperti pada gambar di bawah ini:










Nilai kapasitas dari Kondensator Film ini pada umumnya ada yang langsung dapat dibaca dan ada yang menggunakan sistem kode warna. Penandaan kode warna tersebut berupa 5 buah tanda gelang dan pembacanya sama dengan pembacaan pada kondensator polyester.

KONDENSATOR ELEKTROLIT
Dalam membuat rangkaian-rangkaian elektronika yang menggunakan power yang cukup besar, misalnya Power Supply atau Amplifier pada umumnya diperlukan kondensator-kondensator yang memiliki nilai kapasitas yang besar dengan bentuk fisik kecil.
Maka untuk mendapatkan kondensator yang demikian dibuat kondensator yang memiliki konstanta dielektrikum yang besar dan bahannya terbuat dari bahan cairan.
Kondensator seperti ini dalam praktek disebut Kondensator Elektrolit.
Bentuk fisik dari Kondensator Elektrolit adalah seperti pada gambar di bawah ini:









Perlu diketahui Kondensator Elektrolit ini berbeda dengan kondensator yang telah dibahas sebelumnya.Kondensator elektrolit pada umumnya dilengkapi dengan polaritas kutub positif dan kutub negatif. Dalam percobaan kondensator jenis ini hanya dapat dihubungkan dengan arus searah. Dalam pemasangannya perlu diperhatikan bahwa kutub positif dari kondensator harue dihubungkan dengan tegangan positif dan kutub negatif kondensator dihubungkan dengan tegangan negatif.
Apabila sampai terjadi hubungan yang terbalik maka besar kemungkinan akibatnya kondensator tersebut akan rusak dan jebol.
Nilai kapasitas dari kondensator Elektrolit dinyatakan dalam satuan mikro Farad (μF) dan pada umumnya besarnya kapasitas mencapai ribuan mikro Farad (μF)
Besarnya kapasitas dari kondensator biasanya sudah tertulis pada badan kondensator termasuk dengan batas tegangan maksimumnya (working Voltage)
Kondensator Elektrolit banyak dipergunakan sebagai filter dalam rangkaian rectifier.

KONDENSATOR VARIABLE (KONDENSATOR TIDAK TETAP)

Yang dimaksud dengan Kondensator Tidak Tetap adalah kondensator yang nilai kapasitasnya dapat diatur sesuai dengan kebutuhan.
Dalam bidang elektronika kita mengenal 2 macam kondensator variable yaitu :
1. Varco (variable condensator)
2. Kondensator Trimmer

VARCO (VARIABLE CONDENSATOR)

Kondensator jenis ini pada umumnya bentuk fisiknya besar dan biasanya dipergunakan sebagai pemilih gelombang (penala), misalnya pada pesawat penerima radio atau pada pesawat pemancar.
Bentuk fisik dari kondensator variable dapat dilihat pada gambar di bawah ini:



Kapasitas kondensator ini dibuat mulai dari 0 sampai dengan 500 pF.
Konstruksi dari kondensator variable terdiri dari 2 bagian yaitu :
1. Bagian Stator adalah bagian yang diam (tidak bergerak)
2. Bagian Rotor adalah bagian yang bergerak

KONDENSATOR TRIMMER

Seperti sudah dijelaskan di atas bentuk fisik dari kondensator jenis Varco pada umumnya besar sehingga memakan tempat yang luas pada pemasangannya. Dalam rangkaian elektronika pada umumnya dipergunakan jenis kondensator variable yang bentuk fisiknya kecil. Kondensator tersebut dinamakan Kondensator Trimmer.
Bentuk dari kondensator trimmer adalah seperti gambar dibawah ini:





Besarnyakapasitas dari kondensator Trimmer biasanya berkisar antara 5 sampai 30 pF dan dibuat dari bahan plastik.
Seperti terlihat pada gambar, pada Kondensator Trimmer disediakan 4 buah titik sambungan,dimana untuk sambungan nolnya dihubungkan dengan bagian Stator dari kondensator tersebut.


CONDENSATOR DISCHARGE SWITCH (CDS)

Dengan kemajuan teknologi saat ini telah dikembangkan suatu komponen Kondensator yang peka terhadap cahaya yang dimaksud adalah komponen kondensator tersebut apabila kena cahaya tidak akan bekerja tetapi sebaliknya bila kena cahaya dapat dimuati arus listrik.
Komponen yang peka cahaya tersebut dinamakan Condensator Discharge Switch (CDS) atau Condensator Peka cahaya.
Pada umumnya CDS banyak dipergunakan sebagai sensor, misalnya pada rangkaian alam, lampu taman. Jadi fungsinya hampir sama dengan LDR (Light Dependent Resistant) yang pernah dibahas sebelumnya.

HUBUNGAN KONDENSATOR

Kalau kita perhatikan dalam sebuah rangkaian elektronika seringkali kita menjumpai beberapa buah kondensator yang dihubungkan seri atau paralel. Tujuan kondensator dihubungkan seri dan paralel tentunya disesuaikan dengan kebutuhan.

3.5.1 KONDENSATOR DIHUBUNGKAN SERI

Tujuan menghubungkan beberapa buah kondensator secara seri adalah untuk memperoleh kapasitas kondensator yang lebih kecil agar mendapatkan tegangan yang lebih besar.
Bentuk dari kondensator yang dihubungkan seri adalah seperti pada gambar dibawah ini:


C1 C2 C3




C
TOTAL


Berdasarkan gambar diatas, kita dapat menghitung besarnya kapasitas total dari kondensator yang dihubungkan seri dengan menggunakan rumus:

1 = 1 + 1 atau CT = C1 X C2
C1 C1 C2 C1 + C2


Sebagai contoh:

2 buah kondensator C1 dan C2 yang masing-masing mempunyai kapasitas 1000 μF dengan tegangan kerja (WV) 16 Volt dihubungkan secara seri. Berapa besar kapasitas totalnya.

Jawaban:

Menurut rumus: 1 = 1 + 1
C1 C1 C2
= 1 + 1 = 2
1000 1000 1000

CT = 1000 = 500 μF
2

Jadi besarnya kapasitas total (CT) adalah 500 μF dengan tegangan kerja maksimum sebesar WV = 16V + 16V = 32V.
Dari uraian diatas terbukti bahwa kapasitas total (CT) akan menjadi lebih kecil dari kondensator C1 dan C2 dan sebaliknya tegangan kerja maksimumnya akan menjadi lebih besar.




3.5.2 KONDENSATOR YANG DIHUBUNGKAN PARALEL

Tujuan menghubungkan paralel beberapa buah kondensator dalam suatu rangkaian adalah untuk mendapatkan kapasitas yang lebih besar, tetapi tegangan kerja maksimumnya akan menjadi lebih kecil.
Bentuk dari kondensator yang dihubungkan paralel adalah seperti gambar dibawah ini:


C1


C2


C3


C TOTAL




Besarnya kapasitas total dari kondensator yang dihubungkan paralel dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

CT = C1 + C2

Contoh:
Dua buah kondensator C1 dan C2 yang masing-masing mempunyai kapasitas C1 = 100 pF dan C2 = 500 pF dihubungkan secara paralel. Berapa besar kapasitas totalnya.
Jawab:

Berdasarkan rumus CT = C1 + C2
CT = 100 pF + 500 pF = 600 pF

Jadi kapasitas totalnya adalah 600 pF







BAB V. KOMPONEN AKTIF


KOMPONEN AKTIF

Yang dimaksud dengan komponen aktif adalah komponen elektronika yang bila dialiri aliran listrik atau signal akan menghasilkan tenaga.
Yang termasuk dalam komponen aktif diantaranya adalah:

1. Diode Semikonduktor
2. Transistor
3. Integrated Circuit (IC)

DIODA SEMIKONDUKTOR

Dioda adalah suatu bahan semikonduktor yang dibuat dari bahan yang disebut PN Junction yaitu suatu bahan campuran yang terdiri dari bahan positif (P type) dan bahan negatif (N type).

a. Bahan positif (P type) adalah bahan campuran yang terdiri dari Germanium atau Silikon dengan Aluminium yang mempunyai sifat kekurangan elektron dan bersifat negatif.
b. Bahan negatif (N type) adalah bahan campuran yang terdiri dari Germanium atau Silikon dengan Fosfor yang mempunyai kelebihan elektron dan bersifat negatif.
Apabila kedua bahan tersebut dipertemukan maka akan menjadi komponen aktif yang disebut Dioda.


A K



Pada gambar terlihat pada bagian yang terdiri dari bahan P type akan membentuk kaki yang disebut kaki Anoda bagian yang terdiri dari bahan N type akan membentuk Katoda. Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa Dioda adalah komponen yang memiliki 2 buah kaki seperti terlihat simbol dibawah ini:



A K




Pada Dioda, arus listrik hanya dapat mengalir dari kutub Anoda ke kutub Katoda sedangkan arus yang mengalir dari katoda akan ditahan oleh bahan Katoda.
Dengan adanya prinsip seperti ini Dioda dapat dipergunakan sebagai:
a. Penyearah arus dan tegangan listrik
b. Pengaman arus dan tegangan listrik
c. Pemblokir arus dan tegangan listrik
Pada umumnya Dioda dibuat dari bahan dasar Germanium,Kuprok, Silikon, sehingga Dioda-dioda tersebut dinamakan Dioda Germanium, Dioda Silikon dan lain-lain.
Berdasarkan kegunaannya Dioda dibagi menjadi:
a. Dioda Umum
b. Dioda Khusus

DIODA UMUM

Yang dimaksud dengan Dioda Umum adalah Dioda yang sifatnya dipergunakan secara umum dan biasanya dipergunakan sebagai pembatas tegangan.


Beberapa jenis Dioda Umum diantaranya:

a. Dioda Germanium
b. Dioda Selenium
c. Dioda Kuprok
d. Dioda Silikon

DIODA GERMANIUM

Sesuai dengan namanya Dioda Germanium sebagai bahan dasarnya dibuat dari bahan Germanium. Dioda jenis ini banyak dipergunakan dalam rangkaian pesawat penerima radio (Receiver) pada bagian Detektor.
Bentuk fisiknya adalah seperti pada gambar dibawah ini:






DIODA SELENIUM

Dioda ini disebut Dioda Selenium karena sebagai bahan dasarnya dibuat dari Selenium. Dioda jenis ini pada umumnya dipergunakan sebagai perata dalam suatu rangkaian Power Suplly.
Sifat dari Dioda Seleniu adalah mempunyai kemampuan tegangan yang besar. Kelemahan dari Dioda ini adalah tidak mampu untuk dialiri arus yang cukup besar.


DIODA KUPROK

Kuproks (Cuproks) adalah singkatan dari Cupper Oksida yaitu suatu bahan tembaga (Cu) yang sudah dioksidasi dengan oksigen.
Dalam praktek Dioda jenis ini banyak dipergunakan sebagai perata gelombang penuh (Full Wave) pada rangkaian Power Supply atau pada Adaptor.




Seperti terlihat pada gambar, Dioda Cuproks terdiri dari beberapa buah Dioda yang disusun secara berlapis.
Sifat dari Dioda ini adalah dapat mengalirkan aliran listrik yang besar tetapi tegangannya kecil.
Dioda Kuproks dilengkapi dengan 4 buah kaki. Untuk menentukan mana kaki negatif dan mana kaki positif dapat dibedakan dengan cara melihat tanda yang terdapat pada kaki-kakinya.
Kaki yang bertanda merah adalah kutub Positif
Kaki yang bertanda hitam adalah kutub Negatif
Selanjutnya kaki yang lainnya adalah kaki-kaki yang dihubungkan dengan arus listrik AC.


DIODA SILIKON

Sesuai dengan namanya Dioda ini dibuat dari bahan Silikon dan seperti Dioda sebelumnya Dioda ini pada umumnya dipergunakan sebagai perata.
Keistimewaan dari Dioda ini adalah mempunyai kemampuan mengalirkan arus dan tegangan yang cukup besar.


DIODA RECTIFIER

Ada satu jenis Dioda yang dirancang khusus agar mampu mengalirkan tegangan dan arus listrik yang besar. Bentuknya mirip dengan Baud dan konstruksinya sendiri terbuat dari logam dan dapat dipasang pada plat alumunium dengan cara dibaud. Fungsi dari plat Alumunium ini adalah sebagai pendingin dari dioda, dalam praktek plat logam tersebut dinamakan Heatsink.

Bentuk fisik dari Dioda ini adalah seperti pada gambar dibawah ini:













K

PENGGUNAAN DIODA SEBAGAI PERATA (RECTIFIER)

Dioda-Dioda yang telah kita bahas diatas pada umumnya dipergunakan sebagai perata dengan rangkaian Power Supply.
Sebagai perata Dioda dapat digolongkan sebagai berikut:
a. Half Wave Rectifier (perata setengah gelombang)
b. Full Wave Rectifier (perata gelombang penuh)
c. Full Wave Bridge Rectifier (perata jembatan gelombang penuh)

5.2.2.1 Half Wave Rectifier

Bentuk rangkaiannya adalah seperti pada gambar dibawah ini:

TRAFO 6V
+6V
` D OUTPUT D.C 220 A.C C R O -O
Pada perata seperti pada gambar diatas, tegangan DC yang dihasilkan masih belum rata.

5.2.2.2 FULL WAVE RECTIFIER

Bentuk rangkaian dari perata gelombang penuh (Full Wave Rectifier) adalah seperti pada gambar dibawah ini
TRAFO OUT IN CT C R


Tegangan DC yang dihasilkan akan lebih rata dibandingkan dengan Half Wave Rectifier.

5.2.2.3 FULL WAVE BRIDGE RECTIFIER

Bentuk rangkaian dari Full Wave Bridge Rectifier adalah seperti pada gambar di bawah ini.





4 x 4002 IN C R


DIODA KHUSUS

Yang dimaksud dengan Dioda Khusus adalah Dioda yang berdasarkan sifat-sifatnya dipergunakan sebagai rangkaian yang bersifat komplek.
Beberapa jenis dari Dioda Khusus diantaranya:
1. Dioda Zener (Zener Dioda)
2. Dioda Diac
3. Dioda LED
4. Dioda Triac
5. Dioda Varactor
6. Dioda Fotosel (Foto Cell)
7.
Dioda Zener

Dioda Zener atau Zener Dioda pada umumnya dipergunakan pada rangkaian Power Supply dan fungsinya adalah sebagai penstabil (stabilizer) tegangan. Beberapa jenis Dioda ini memiliki harga pembatas misalnya : 5V, 6V, 12V, dan lain-lain.
Simbol dari Zener Dioda adalah seperti pada gambar dibawah ini:


A K



DIODA DIAC

Diac adalah singkatan dari Dioda Alternatif Current. Jadi fungsi dari Dioda Diac adalah Dioda yang dapat mengalirkan arus listrik bolak-balik (AC).
Dioda Diac sebenarnya terdiri dari dari 2 buah Dioda yang disusun secara berlawanan seperti pada gambar di bawah ini:




A K




Dioda Diac pada umumnya dipergunakan sebagai pemicu atau mentrigger dan mengendalikan komponen SCR (Silikon Control Rectifier) atau mengatur daya.

DIODA LED

LED adalah singkatan dari Light Emmiting Dioda atau kalau bahasa baku artinya adalah Dioda yang dapat memancarkan cahaya. Cahaya yang dihasilkan oleh LED bermacam-macam misalnya warna merah, hijau, kuning. LED sendiri dibuat dari bahan Silikon atau Germanium.
Karena warnanya yang berwarna-warni,maka LED banyak dipergunakan untuk rangkaian lampu reklame atau sebagai pilot lamp.
Simbol dari LED adalah seperti pada gambar dibawah ini:










DIODA TRIAC

Triac adalah singkatan dari Trioda Alternating Current. Dalam rangkaian Dioda Triac pada umumnya dipergunakan untuk pengendali, pengontrol, atau sebagai pengatur arus bolak balik.
Simbol dari Dioda Triac seperti pada gambar dibawah ini:





A K G

5.2.2.5 DIODA VARACTOR

Yang dimaksud dengan Dioda Varactor adalah Dioda yang dilengkapi dengan sebuah komponen kondensator sehingga kondensator tersebut akan dimuati arus apabila ada arus yang mengalir melalui Dioda tersebut.
Pada umumnya Dioda ini dipergunakan sebagai rangkaian Automatic Frekuensi Control (AFC) atau sebagai komponen penyesuaian frekuensi.

Simbol Dioda adalah seperti pada gambar dibawah ini:



A K



DIODA FOTOSEL (FOTO SELL)

Dioda Fotosel adalah Dioda yang nilai tahanannya akan berubah apabila kena cahaya, besarnya perubahan kapasitasnya tergantung dari intensitas cahaya yang mengenai permukaan Fotosel tersebut.
Dalam bidang elektronika, seperti halnya komponen LDR dan CDS, Dioda Fotosel banyak dipergunakan sebagai sensor cahaya, misalnya untuk rangkaian alarm atau rangkaian lampu taman

BAB VI. TRANSISTOR

6.1 TRANSISTOR

Kalau kita perhatikan hampir dalam setiap rangkaian elektronika masa sekarang ini banyak kita jumpai satu atau beberapa buah komponen yang bentuknya kecil dan warnanya hitam yang dilengkapi dengan 3 buah kaki. Komponen tersebut dinamakan Transistor. Transistor tersebut termasuk juga dalam jenis komponen aktif.
Bentuk fisik dari Transistor dapat dilihat pada gambar dibawah ini:





C
B
E


Nama Transistor berasal dari kata transfer dan resistor transefer artinya mengalihkan atau membuah perubahan sedangkan resistor adalah suatu bahan yang tidak dapat mengantarkan arus listrik.
Jadi arti dari Transistor adalah merubah bahan yang tidak dapat mengantarkan aliran listrik menjadi bahan penghantar atau setengah penghantar atau disebut juga bahan semikonduktor.
Transistor pada umumnya dipergunakan sebagai penguat atau amplifier.
Perlu diketahui Transistor ditemukan oleh 3 orang sarjana bangsa Amerika yang bernama J. Barden, WH Brattain, dan W Schockley pada tahun 1948.
Seperti juga halnya dengan Dioda, Transistor juga dibuat dari bahan Germanium, Silikon, dan Indium.
Transistor sendiri sebenarnya adalah hasil pengembangan dari 2 buah Dioda jenis PN dan NP yang dipertemukan sehingga akan membentuk satu elektroda yang berfungsi sebagai pengontrol pertemuan antara bahan PN dan NP tersebut.
Prinsip terjadinya pertemuan kedua bahan tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:
E K

B E K B


Seperti terlihat pada gambar diatas, bila kedua bahan yang dipertemukan bahan jenis N nya maka akan diperoleh Transistor jenis PNP.





E K B


Pada gambar di atas juga terlihat, bila kedua bahan yang dipertemukan bahan jenis P nya, maka akan terbentuk Transistor jenis NPN.

N P + P N = NPN

Dari hasil pertemuan kedua bahan P dan N tersebut akan menghasilkan sebuah komponen Transistor yang memiliki 3 buah elektroda yang membentuk 3 buah kaki yaitu:
- Emitor disingkat E
- Basis disingkat B
- Kolektor disingkat K atau C

Berdasarkan prinsip tersebut maka dalam teknik elektronika Transistor tersebut dinamakan Transistor Bipolar jenis PNP dan NPN. Simbol Transistor jenis PNP dan NPN pada umumnya digambarkan sebagai berikut

collector emitter collektor base 1. emitter 2. base collektor emitter collektor base 3. emitter 4. base


Pada gambar diatas dapat dilihat adanya perbedaan antara Transistor jenis PNP dengan NPN yang terletak pada tanda anak panah pada kaki Emitornya (E). Pada Transistor PNP tanda anak panahnya menuju keluar sedangkan pada Transistor NPN tanda anak panahnya menuju kedalam.

6.2 PEMASANGAN TRANSISTOR BERDASARKAN HUBUNGANNYA

Dalam prakteknya ada 3 macam cara memasang Transistor dalam suatu rangkaian yaitu:
a. Common Emitor, yaitu hubungan Emitor ke bumi.
b. Common Basis, yaitu hubungan Basis ke bumi.
c. Common Kolektor, yaitu hubungan Kolektor ke bumi.

6.2.1 COMMON EMITOR

K B E


Pada hubungan Common Emitor, bagian inputnya adalah antara Basis dengan Emitor, sedangkan bagian outputnya adalah antara Kolektor dengan Emitor.






6.2.2 COMMON BASIS
E K B

Pada Common Basis bagian inputnya adalah antara Emitor dengan Basis sedangkan bagian outputnya adalah antara Kolektor dengan Basis.

6.2.3 COMMON KOLEKTOR


E B K




Pada hubungan Common Kolektor, bagian inputnya adalah antara Basis dengan Kolektor sedangkan bagian outputnya adalah antara Emitor dengan Kolektor.

6.3 MENENTUKAN LETAK KAKI TRANSISTOR

Jenis Transistor yang beredar dipasaran banyak bentuk dan beraneka ragam dan pada umumnya Transistor-transistor tersebut diberi tanda agar memudahkan dalam menentukan letak dari masing-masing kakinya. Tanda-tanda tersebut dicantumkan bermacam-macam diantaranya:

- Tanda titik putih, biru dan merah
- Tanda lingkaran merah, hitam dan putih
- Tanda segi empat putih dan biru

Lingkaran merah tanda
Kolektor







K E B






Untuk dapat menentukan kaki Transistor, langkah pertama adlah mencari tanda titik, lingkaran atau segi empat tersebut pada badan Transistor. Kaki yang paling dekat dengan tanda tersebut adalah kaki Kolektor (K) dan selanjutnya kaki yang terletak disebelah kaki Kolektor berlawanan dengan arah jarum jam adalah kaki Basis (B) dan yang lainnya adalah kaki Emitor (E).
Selain dengan cara diatas, kita dapat menentukan letak kaki Transistor dengan cara menegakkan transistor seperti pada gambar dibawah ini:
B
E K
Kedudukan kita
Kalau kita perhatikan pada gambar diatas titik pangkal dari ketiga kaki Transistor tersebut akan membentuk segi tiga sama kaki.
Titik puncak dari segi tiga sama kaki tersebut, adalah merupakan kaki Basisnya (B), titk yang terletak disebelah kiri Basis adalah kaki Emitor (E) dan yang lainnya adalah kaki Kolektor (K).
Bentuk dari kaki-kaki Transistor dari jenis Transistor lainnya adalah seperti pada gambar dibawah ini:
Tanda dot CC C AC 188 B 2SB 178 E C B E


E B C BF 195 BC 14S B C E

E E AD 149 C 2SB 337 B


TRANSISTOR SEBAGAI PENGUAT

Pada umumnya Transistor dalam suatu rangkaian dipergunakan sebagai rangkaian penguat (amplifier), yang dimaksud sebagai penguat disini adalah melipat gandakan arus yang masuk pada bagian Basis (B).
Untuk membuat rangkaian panguat (amplifier) pada umumnya diperlukan lebih dari satu buah komponen transistor.
Bila suatu rangkaian penguat menggunakan sebuah Transistor maka rangkaian penguat tersebut disebut penguat satu tingkat dan bila menggunakan 2 buah Transistor maka disebut penguat 2 tingkat

INTEGRATED CIRCUIT (IC)

INTEGRATED CIRCUIT (IC)

Perkembangan teknologi elektronika telah berkembang dengan pesatnya. Hal ini ditandai dengan bermunculannya produk-produk baru yang beraneka ragam. Perkembangan tersebut sebenarnya dimulai sejak ditemukannya suatu komponen baru yang disebut Integrated Circuit (IC). Komponen IC tersebut dibentuk dari beberapa macam komponen elektronika seperti resistor, kapasitor, diode, transistor yang dirangkai menjadi satu rangkaian yang terintegrasi dalam bentuk sebuah chip.
Dengan memasang beberapa buah komponen IC telah memungkinkan seseorang dapat menciptakan suatu perangkat elektronik yang modern seperti Calculator, Komputer, dan lain-lain.
Seperti terlihat pada gambar diatas, bentuk fisik dari komponen IC adalah kecil dan berwarna hitam yang dibuat dari bahan Silikon.
Berbeda dengan Transistor, sekalipun bentuknya kecil, IC memiliki banyak kaki. Banyaknya kaki tergantung dari banyaknya komponen yang membentuk IC tersebut.
Pada umumnya IC memiliki jumlah kaki yang bermacam-macam mulai dari 3, 8, 14, 16 bahkan ada yang sama 40 kaki. Kaki-kaki tersebut disusun dalam bentuk 2 baris atau DIL (Dua In Line).
Integrated Circuit (IC) sebenarnya merupakan pengembangan dari Transistor dan IC ditemukan oleh seorang sarjana bangsa Amerika yang bernama J. S. Kilby pada tahun 1958.
Perlu diketahui bahwa komponen IC adalah komponen yang sangat peka dan mudah rusak, maka dari itu dalam penggunaannya perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1. Pemberian tegangan harus sesuai dengan ketentuan.
2. Pemasangan kaki-kakinya jangan sampai terbalik
3. Dalam pemasangan harus menggunakan socket IC
4. Pada waktu menyolder socket, IC jangan terpasang

Jenis komponen IC yang banyak dipergunakan untuk keperluan hoby adalah jenis TTL IC (Transistor-Transistor Logic) yang pada umumnya menggunakan catu daya Vcc + 5V.
Jenis TTL ini sangat peka sekali terhadap tegangan lebih, sehingga apabila kita akan bereksperimen dengan rangkaian yang menggunakan IC harus betul-betul menggunakan catu daya yang stabil.
Untuk keperluan lain yang bersifat khusus ada jenis IC lainnya yaitu yang disebut IC CMOS (Complementary Metal Oxide Semoconductor) atau IC jenis MOSFET (Metal Oxide Semoconductor Field Effect Transistor).
Keistimewaan IC dari jenis ini adalah dapat bekerja dengan berbagai macam variasi tegangan yang lebih besar, tetapi dengan konsumsi daya yang relatif kecil. Namun demikian IC jenis CMOS ini mempunyai kelemahan yaitu sangat peka terhadap tegangan listrik statis, sehingga dalam penyimpanannya IC pada umumnya disimpan dalam kemasan yang kaki-kakinya dijepit dengan bahan yang terbuat dari busa plastirk.
Pada waktu membuat rangkaian yang menggunakan IC, sebaiknya komponen IC ini dipasang terakhir pada rangkaian.

8.2 MENENTUKAN KAKI IC

Perlu diketahui komponen IC adalah komponen yang bersifat komplek dan memerlukan pembahasan khusus. Untuk mengetahui parameter dan hubungan-hubungan antara bagian input dan outputnya harus menggunakan buku katalog dari TTL IC. Walaupun demikian tidak ada salahnya kalau kita dapat mengetahui bagaimana caranya menentukan letak dari kaki IC.
Untuk dapat menentukan kaki IC, pertama-tama kita harus dapat menentukan kaki mana yang nomor satu, dan jika kaki nomor satu sudah diketahui, maka kaki-kaki yang lainnya dapat diketahui.
Sekarang perhatikan gambar di bawah ini:








Untuk mengetahui urutan dari kaki IC caranya adalah sebagai berikut:
- Letakkan komponen IC secara mendatar dan perhatikan pada bagian atasnya.
- Pada bagian atas akan terlihat sebuah coakan atau sebuah titik berwarna hitam atau putih yang letaknya berdekatan dengan salah satu dari kaki IC.
- Kaki yang paling dekat dengan tanda titik itu adalah kaki nomor 1 dan secara berurutan berlawanan dengan arah jarum jam adalah kaki-kaki lainnya yang berurutan mulai dari nomor 1, 2, 3, 4 dan seterusnya sampai yang terakhir.




By: hacker_ngakan87

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KOMENTAR SEWAJARNYA AJAH